3 Fakta Unik dari Penggunaan Aplikasi Mobile di Indonesia

Kemajuan teknologi yang semakin berkembang terutama dalam bentuk smartphone dan tablet turut memicu munculnya aplikasi mobile yang beragam. Mulai dari aplikasi chatting seperti BBM dan WhatsApp, aplikasi foto dan video seperti Instagram, serta deretan aplikasi E-Commerce hingga layanan menambah teman baru.

Dibalik itu, Baidu memberikan informasi terkait sejumlah data hasil riset dari GFK tentang para pengguna aplikasi mobile di Indonesia pada Kamis (4/7) lalu. Apa sajakah hasil riset tersebut? Berikut penjelasan yang didapat dari Iwan Setiawan selaku Marketing Manager Baidu Indonesia. Yuk kita simak!

1. Masyarakat mau melirik aplikasi Lokal

Meskipun nama-nama aplikasi yang berasal dari luar negri telah mendominasi di Indonesia, namun dalam urusan belanja online, masyarakat masih mencintai produk lokal.

Terbukti dengan aplikasi e-commerce seperti Bukalapak dan Tokopedia yang masuk dalam 5 besar aplikasi belanja yang diminati di Indonesia. Serta konten lainnya seperti Money Management ada nama Uangku yang masih popular.

Sedangkan dalam kategori aplikasi transportasi, aplikasi GO-JEK lah yang merajai posisinya dengan mencapai 21,6% pengguna dari berbagai aplikasi trasnportasi lainnya yang ada di Indonesia.

Pencapaiannya dengan angka tersebut jauh meninggalkan Grab yang hanya 6% serta UBER yang tingkat pencapaiannya kurang dari satu persen pengunduhan.

Namun ternyata aplikasi yang berasal dari luar negri pun masih banyak diminati, lalu kira-kira apa ya penyebabnya? Iwan mengatakan bahwa karakter orang Indonesia itu cenderung tertarik dengan layanan yang sudah “jadi” serta minim bug.

Kebanyakan aplikasi lokal yang dikelola ini masih terbentur masalah sumber daya manusia, pekerjaan teknis yang tergabung atau merangkap dengan nonteknis, serta belum cukupnya ruang di toko aplikasi untuk mempublikasikan.

Bila ada satu produk yang bagus dan diminati masyarakat, biasanya mereka belum siap dengan permintaan yang banyak dari user. Seperti contohnya banyak startup yang membuat aplikasi namun tim developer dan marketingnya sama alias merangkap.

2. Bloatware? Tidak masalah

Walaupun banyak orang yang mengeluh mengenai banyaknya bloatware terhadap perangkat yang mereka gunakan, namun masih banyak orang yang menggunakan aplikasi tersebut. Contohnya seperti pada kategori toko aplikasi, S Suggest milik Samsung tercatat 23 % sebagai aplikasi yang diminati masyarakat.

Sedangkan dalam kategori Lifestyle, Galaxy Gift dengan berbagai promo yang diperuntukkan oleh para pengguna perangkat Samsung Galaxy juga masih banyak diminati orang.

Aplikasi dari vendor lain seperti Oppo Weather dan Lenovo Weather juga bahkan berturut-turut menjadi aplikasi yang menempati posisi teratas dari hasil survei untuk kategori Weather ini. Lalu apakah masyarakat di Indonesia memang terbantu dengan adanya bloatware ini?

Iwan sendiri mengatakan kebanyakan smartphone memang memiliki aplikasi bawaan, dan jika aplikasi tersebut banyak dimininati itulah salah satu indikatornya yang membuat laku dipasaran. Namun jika tidak dapat dinon-aktifkan, mereka para pengguna hanya bisa pasrah.

3. Potensi Naik daunnya In-App Purchase

Pada tahun 2015 lalu, aplikasi berbayar lebih unggul dibandingkan dengan IAP, namun untuk tahun ini IAP diprediksi akan menggeser berbagai aplikasi berbayar tersebut.

Mengapa? Menurut Iwan, “Karena masyarakat Indonesia itu tetap cenderung memilih yang gratis, bila tahun lalu peminat IAP hanya mencapai 2,8% saja namun tahun ini diprediksi akan dapat mencapai 3,9% dan angka tersebut akan terus meningkat dari waktu ke waktu” ujarnya.

Bicara mengenai IAP, dari sekitar 7% penggunanya yang berada di Indonesia system ini juga mampu memberi pemasukan yang cukup tinggi untuk aplikasi mobile. Walaupun persentasinya hanya mencapai 7% namun pemasukan yang didapat bisa mencapai sekitar Rp 1,2 milyar dalam satu tahunnya.

IAP ini memberikan 2 pilihan kategori yakni IAP yang gratis dan berbayar. Contoh IAP gartis adalah memberikan berbagai keuntungan lain kepada para pengguna setelah memberikan share atau reference. Peminat IAP gratis ini tentunya lebih banyak dibandingkan yang berbayar.

Menurut Iwan, beberapa developer ini harus lebih mengembangkan IAP gratis agar dapat tetap bersaing serta diminati masyarakat, contohnya dengan memberikan poin yang dapat ditukar secara “offline” seperti ditukar dengan makanan, atau voucher belanja lainnya.

Yang jelas buat lah iklan tersebut seolah merupakan bagian dari aplikasi, bukan hanya menerapkan hard selling, tambah Iwan.

Related Post

Comments are closed.